Tue. Sep 26th, 2023

Setiap masyarakat memiliki strata-strata sosial. Strata atau kelas ini referensinya berbeda-beda. Ada yang berdasarkan keturunan raja atau darah biru. Mereka yang terlahir dengan darah biru akan diposisikan pada strata sosial tinggi. Dalam masyarakat Jawa ada keluarga yang mengawetkan strata ini dengan mencantumkan gelar Raden atau yang lebih tinggi lagi, yang menunjukkan bahwa dia keturunan Keraton.

Di lingkungan masyarakat Hindu strata ini berdasarkan faham dan keyakinan tentang kasta, misalnya kasta Brahma, terjaga secara turun-temurun. Tak ketinggalan juga di lingkungan pesantren, anak kyai sering dipanggil Gus, menunjukkan bahwa dia masih keturunan darah biru, yang mesti dicintai dan dihormati oleh kalangan santri dan masyarakat.

Dengan kemajuan dunia pendidikan, strata sosial yang belandaskan referensi primordial, yaitu keunggulan hanya berdasarkan kelahiran dan keturunan, mulai tergeser oleh keunggulan prestasi akademis-keilmuan yang kemudian diabadikan dengan titel kesarjanaan. Kalau dulu orang bangga dengan titel Raden yang disingkat Rd, maka sekarang tersaingi oleh titel kampus Doktor dengan singkatan Dr.

Di kalangan militer strata ini sangat dijaga dan untuk mendaki ke strata yang lebih tinggi perlu perjuangan berat, sebagaimana untuk meraih Doktor atau Profesor. Di birokrasi pun demikian, strata sosial-birokrasi ini sangat besar pengaruhnya karena memiliki efek kekuasaan dan ekonomi. Hanya saja masa berlakunya tidak melekat permanent, sebatas legalitas yang sah.

Cerita-cerita di atas hanya ingin menekankan satu hal bahwa setiap komunitas selalu melahirkan format pyramidal, dengan referensi dan rasionalitas yang beraneka ragam. Orang boleh saja memperjuangkan ideologi masyarakat tanpa kelas, semua sama kedudukannya di depan hukum dan Tuhan, namun strata dan hirarki sosial selalu saja ada.

Strata Sosial dan Gaya Hidup

Dalam sebuah obrolan ringan seorang ibu dari kelas menengah dalam katagori ekonomi bercerita, sekarang ini banyak ibu-ibu yag ingin dirinya naik ke strata sosial atas atau setidaknya agar dipandang sebagai bagian dari komunitas strata atas. Lalu apa yang mereka lakukan? Menurutnya, mereka membeli “tangga naik” yang dapat dijadikan pijakan ke atas berupa barang-barang bermerek dengan harga yang mahal. Dengan menggunakan asesoris berkelas dunia, seseorang lalu merasa sudah menjadi bagian dari strata atas. Maka apa yang dipakai sejak dari tas, baju, sepatu, jam tangan, mobil dan asesoris lain selalu yang mahal dan berkelas.

Celakanya, uang itu didapat tidak selalu dengan cara halal, melainkan diambil dari hak orang lain dengan jalan korupsi. Ketika seseorang sudah merasa di strata pelataran atas yang memerlukan biaya mahal, posisinya ibarat seseorang yang pergi ke sebuah mal besar. Untuk menuju ke sana perjuangan ke sana sekadar bersabar mengatasi jalan macet. Tetapi begitu seseorang telah masuk mal besar yang menawarkan dagangan sangat beragam dengan harga puluhan dan ratusan juta, tiba-tiba seseorang menjadi miskin.

Berapa pun kekayaan seseorang akan selalu merasa kurang untuk berbelanja barang-barang yang sesungguhnya bukan masuk katagori kebutuhan dasar, melainkan hanya membeli gaya hidup. Mereka yang terjebak ke domain ini tidak sadar bahwa dengan menggunakan barang-barang mahal seakan dirinya menjadi ikut naik kualitas pribadi dan hidupnya. Padahal yang berharga itu asesorisnya, bukan diri pribadinya. Orang semacam ini mesti diingatkan dan dikasihani. Mereka terkena krisis kepercayaan diri dan kepribadian.

Coba saja amati apa yang terjadi dalam masyarakat kita sebagaimana yang diberitakan oleh media massa. Berbagai skandal korupsi dan kasus-kasus keluarga yang berantakan semuanya berakar ketika seseorang terjebak untuk membeli gaya hidup agar dirinya dipandang sebagai bagian dari strata sosial atas. Padahal, sejak dari tradisi di desa, sekolah dan perguruan tinggi, harga diri seseorang itu karena ilmunya, pribadinya dan kontribusinya pada masyarakat banyak, bukan pada gaya hidupnya yang menjadikan materi dan pangkat sebagai topeng pemanis diri dan pendongkrak status sosialnya.

Ternyata naiknya seseorang dalam hal jabatan dan kekayaan tidak selalu dibarengi dengan semakin dewasanya dalam memaknai, menjalani dan menghayati kehidupan agar semakin otentik.

Komaruddin Hidayat
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.

sumber: http://www.metrotvnews.com/read/analisdetail/2011/12/19/234/Membeli-Gaya-Hidup

By Cholis

6 thoughts on “Membeli Gaya Hidup”
  1. Mike Brown, die Ankunft der Lakers Verteidigung auf die nächste Ebene, aber zur gleichen Zeit, das Überleben des Teams offensive, belstaff jacke aber nicht über die glatte und wunderschön. So hängt Laibainamu und Bryant allein.

Comments are closed.