Voucher oh Voucher

Kalau bukan karena nomor HP saya sudah menyebar ke seluruh Indonesia, sebenarnya saya ingin ganti kartu selular saja. Sudah pelit, mahal, ditambah belakangan ini sering mengalami gangguan. Bahkan untuk menghubungi sesama operator saja kadang tidak akur alias gagal konek.

Dulu, saya menggunakan nomor ini karena diwarisi leh adik ipar. Dia mau ganti nomor. Kalau dibuang, rasanya sayang karena zaman itu untuk membeli kartu perdana harus mengeluarkan ongkos 500 ribu perak. Itu saja menggunakan sistem indent.

***

Sudah menjadi ritual bulanan saya untuk membeli voucher pulsa untuk kartu pulsa Memang, kadang-kadang ada orang yang berbaik hati, diam-diam, mentransfer pulsa. Tahu-tahu dapat notifikasi bahwa pulsa saya bertambah. Namun sejak bapak yang dermawan ini pindah tugas ke luar negeri, amal pulsa ini terhenti. Maka saya kembali ke rutinitas semula.

Saya membeli voucher fisik Telkomsel di warung dekat rumah seharga Rp.50.000,- Mungkin karena terlalu kuat menggosok, maka nomor rahasia dalam voucher itu justru ikut terkelupas. Saya tidak bisa memasukkan nomor rahasia ini untuk mendapatkan tambahan Pulsa.

Saya mencoba minta ganti ke pedagangnya, tapi dia menolak. Penjaga warung itu menyarankan saya menghubungi call center 116. Saya menurut walaupun tapi tak yakin benar akan ada hasilnya mwngingat jaringan ini sangat sibuk.

Panggilan pertama langsung tersambung. Saya lalu menceritakan persoalan. Operator di seberang menanyakan beberapa informasi dan kedengarannya dia mengetikkan data itu ke komputer.

“Tunggu sebentar pak,” kata operator dengan nada manis,”jangan tutup telepon ya.” Belum sempat saya jawab, sudah terdengar nada tunggu. Semenit, dua menit, lima menit…sepuluh menit berlalu untuk menunggu. Telinga saya mulai panas karena ditempeli HP. Untung baterai baru saja di-charge. Saya sedngaja tidak mematikan sambungan karena khawatir nanti harus memulai dari proses awal lagi.

“Terimakasih Bapak sudah menunggu. Mohon maaf untuk saat ini kami tidak bisa memproses pengaduan Bapak. Silakan bapak mengunjungi Grapari terdekat,” kata suara di seberang.

“Dimana lokasi Grapari terdekat?” tanya saya.

“Di Yogyakarta pak.” jawabnya.

Busyet deh…habis berapa ongos ke Jogja untuk menukar Voucher seharga Rp. 50 ribu?

***

grapari

Tanggal 3 Mei saya pergi ke Jogja dan saya sempatkan mampir di Grapari,  di eks gedung Adem Ayem. Ruangannya memang adem, tapi saya antreannya berjubel.

“Ada yang bisa dibantu pak?” tanya satpam ramah. saya ceritakan persoalan saya. Kemudian saya diajak mendekati sebuah layar monitor sentuh. “Berapa nomor HP bapak?” tanya satpam. Saya menyebutkan nomor HP. Satpam itu memasukkan ke dengan menyentuh layar monitor, lalu keluar nomor antrean: 849!

Saya mengantre di deretan meja dengan tulisan “Quick Service.” Entah apa itu artinya, karena ternyata saya harus menunggu selama dua jam untuk mendapatkan giliran.

“Selamat siang pak. Apa yang bisa saya bantu?” jawab Friska, petugas front office. Saya lalu menceritakan kembali persoalannya.

“Berapa nomor HP, bapak?” tanya Friska.

Saya menyebutkan kembali nomor HP sambil teringat bahwa ketika mengambil nomor antrean tadi saya sudah memasukkan data nomor HP. Lalu untuk apa nomor HP itu? Saya tadinya menduga nomor antrean itu sudah terkoneksi dengan komputer di front office sehingga dapat memangkas waktu. Dengan begitu, pelayanan yang “quick” itu benar-benar terjadi.

Friska menyodorkan formulir dan meminta KTP saya. “Silahkan bapak mengisi formulir ini,” katanya sambil berlalu untuk memfotokopi KTP saya.

“Pak, pengaduannya kami catat dulu,” kata Friska sambil menyerahkan selembar form pengaduan oranye yang sudahs aya isi tadi,”nanti kalau sudah diproses, kami menghubungi bapak untuk datang ke sini lagi mengambil voucher pengganti.”

“Mbak, saya ini tinggal di Klaten,” jawab saya jengkel,” untuk ke sini, saya mengeluarkan onglos Rp. 20.000,- Kalau saya harus ke sini lagi, berarti saya sudah keluar ongkos Rp.20.000,- Masa untuk menukar voucher seharga Rp. 50.000,- saya harus keluar ongkos Rp. 40.000,-? Masuk akal nggak sih?”

“Tapi peraturannya harus begitu pak,” jawab Friska.

“Apakah tidak bisa diproses dalam satu hari saja, supaya saya tidak bisa bolak-balik?”

“Tidak bisa pak. Saya harus memintakan persetujuan pimpinan saya dulu untuk mengganti voucher ini.”

“Tapi coba pikirkan, apakah ada artinya jika saya keluar ongkos Rp. 40 ribu untuk mengklaim hak saya sebesar Rp. 50 ribu?”

“Maaf pak, peraturannya memang begitu.”

Saya tahu tidak ada gunanya berdebat kusir dengan petugas front office ini. Mereka hanya menjalankan prosedur dan tak punya otoritas untuk membuat keputusan.

****

Saat menulis blog ini, saya kembali teringat “quick service”, lalu tertawa dalam hati. “Quick service apaan? Quick service dari Hongkong!” batin saya. Sampai saat ini pun [3 hari setelah pengaduan di quick service], belum ada kabar dari Telkomsel.

Saya lalu teringat janji-janji palsu para produsen:

1. Sebuah penyedia layanan TV berbayar menjanjikan pemasangan alat penangkap “paling lambat seminggu. Bahkan besok pagi pun langsung terpasang.” Sudah 8 minggu sejak janji itu diucapkan belum terpasang. Saat saya telepon, dengan enteng petugasnya menjawab, “maaf, stok parabola sedang habis.”

Saya bilang, “Kalau stok sedang habis, jangan pernah memberi janji seminggu dong!.”

“Tapi waktu saya menjanjikan itu, stoknya masih ada,” elaknya.

2. Saya adalah nasabah bank yang berlogo “handuk diperas.” Mereka membuat program point reward. Sebagai nasabah lama, meski saldo tabungan saya cethek, tapi saya berhasil mengumpulkan poin minimal.

Saya lalu menukar poin itu. “Paling lambat bulan Februari, hadiah akan langsung terkirim ke rumah bapak.”

Hingga bank itu akhirnya dimerger, hadiah itu tak terikirimkan sampai sekarang.

3. Saat telepon rumah pastori mengalami gangguan, saya meminta kantor gereja untuk melaporkan ke Telkom. Di satu sisi, kami merasa senang karena kami bisa “hidup tenang” untuk beberapa saat, tapi celakanya kami juga tidak bisa menelepon keluar. Dua minggu berlalu, meski karyawan kantor sudah melapor, namun tidak ada hasil.

Maka batas kesabaran saya sudah habis. Saya datangi plasa Telkom, lalu petugasnya saya ancam kalau sambungan tidak diperbaiki, maka saya akan menulis surat pembaca di koran dan mengadu ke lembaga konsumen. Sejam kemudian, sambungan telepon normal kembali.

1 Comment

Comments are closed.