Pelatihan Pendidikan Konsumen di Penang

Lembaga Konsumen Yogyakarta mengirimkan 3 relawan untuk untuk mengikuti Training Pendidikan Konsumen, 20-27 Maret 2016.Consumer Association of Penang (CAP). Berikut catatan Purnawan Kristanto, salah satu relawan yang dikirim:

image

Saya beruntung mendapat kesempatan untuk belajar lagi. Melalui pak Widijantoro dari Lembaga Konsumen, saya diundang oleh Consumer Association of Penang (CAP) untuk mengikuti Training Pendidikan Konsumen, 20-27 Maret 2016.
Bersama dengan saya, ada empat peserta yang berangkay bersama saya, masing-masing: Pak Murdoko dan bu Eri dari LKY, bu Rita dari yayasan KAKAK (Solo), dan bu Tri dari SHEEP (Yogyakarta).

image

Kami terbang dari Yogyakarta ke Kuala Lumpur lebih dahulu. Penerbangan mengalami sedikit goncangan saat jelajah di udara. Pendaratan di KLIA2 pun kurang mulus.
Urusan imigrasi lancar. Tidak lebih dari semenit. Setelah itu mengurus bagasi.

image

Bandar udara utama di Malaysia ini memang sangat besar.  Yang menarik di sini, adalah wadah plastik pada conveying belt. Petugas memasukkan bagasi yang mudah rusak ke dalam wadah yang mirip baskom plastik ini. Teman saya sempat mengira wadah ini bagasi penumpang. “Kok banyak penumpang yang bawa baskom plastik ya?” katanya.
Usai mengurus bagasi, kami naik ke dua lantai menuju terminal domestik. Meski memiliki brand yang sama, namun ternyata tidak bisa untuk connecting flight. Kami masih harus drop bagasi lagi.

image

Video


Pelayanan petugas maskapai kurang ramah. Kami dilayani dengan muka masam.
“Mbake mbesengut,” omelku di depannya. Saya sengaja menggunakan bahasa Jawa supaya dia tidak tahu kalau sedang saya omeli. Apakah petugas Malaysia itu bermuka cemberut karena tahu kami dari Indonesia? Entahlah.

image

Usai bagasi beres, perut kami lapar. Kami duduk lesehan dan membuka bekal. Saya bawa bekal nasi gudeg yang saya simpan dalam wadah nasi.
Dari counter check in ke pintu keberangkatan ternyata masih harus berjalan 20 menit. Cukup jauh juga. Kalau di Changi, jarak antar tempat yang jauh tidak menjadi masalah karena ada travelator. Sedangkan di KLIA2 tidak ada.
Selepas senja, kami terbang ke Penang setelah tertunda 20 menit.

image

Tak sampai 40 menit kami sudah mendarat di Penang. Ini seperti penerbangan dari Jakarta ke Lampung. Baru saja terbang, sudah mendarat lagi.
Miss Yao dari CAP sudah menjemput kami. Pada saat yang sama, Hasnoor dari Jakarta juga mendarat dan bergabung. Namun kami tidak bisa segera ke penginapan karena miss Yao belum menemukan Nurjanah dari Semarang. Dia sebenarnya sudah mendarat lebih dulu 4 jam sebelumnya tapi tidak bisa dikontak. Dia terbang dari Kualanamu, Medan. Berdasarkan komunikasi terakhir, dia kehilangan bagasi. Namun setelah itu kehilangan kontak.
Karena kebingungan bagaimana cara menghubungi Nurjanah, maka miss Yao putuskan antar kami di penginapan dulu, baru setelah itu mengurus Nurjanah lagi. Kami menginap di RECSAM.
Pukul 10 malam, kami sudah mendapat kamar. Keinginan terbesar kami adalah makan, lalu tidur. Tapi apa hendak dikata. Baru semenit masuk kamar, tiba-tiba aliran listrik mati. Tidak hanya kamar kami, tapi juga kamar lain. Meski menjelang tengah malam, namun suhu udara masih panas. Barangkali karena fenomena equinox yang juga heboh di sini. Perut lapar, capek, dan kegerahan. Lengkap sudah.
Kami nongkrong di luar sembari menunggu makan malam yang tak kunjung datang. Ketika makanan itu datang juga, tak urung saya merasa geli.

image

Jauh-jauh ke Penang, makannya nasi goreng teri. Minumnya pun berupa teh dibungkus plastik. Tapi saya ingat pesan almarhum ibu:

“Lauk paling lezat bagi orang makan itu adalah rasa lapar.”

Maka tak urung nasi goreng itu pun tandas (dalam artian Indonesia lho. Soalnya dalam bahasa Melayu, ‘tandas’ itu berarti toilet).
Karena perut sudah kenyang, inginnya segera mandi. Tapi listrik tak kunjung menyala. Saat diadukan ke resepsionis, dia menjawab bahwa teknisi sedang on the way. Apakah gangguan listriknya sangat berat sehingga butuh waktu lama?
Dari arah jalan masuklah mobil kecil. Itu dia teknisi datang. Dia bergegas menuju gardu listrik. Dia buka pintunya. Lalu dia geser sebuah tuas dan….voila…listrik kembali nyala. Kalau di rumah saya itu yang disebut meterannya njeglek.

 

***

image

Pada mulanya hubungan antara konsumen dan produsen itu sangat dekat dan akrab. Antara penjahit dan pelanggan terjalin karib. Antara tukang roti dan pembeli masih saling kenal. Dengan demikian jika terjadi masalah maka mereka dapat menyelesaikan secara langsung.
Namun semenjak terjadi revolusi industri maka hubungan itu menjadi renggang. Antara produsen dan konsumen tidak saling mengenal. Persoalan yang muncul juga semakin beragam.  Pada saat itulah muncul pihak ketiga yang menjadi penghubung. Inilah embrio lembaga konsumen.
Hari pertama ikut pelatihan di Penang, seolah naik kapsul waktu kembali ke tahun 1993. Mr. Ooi Kim Aun menyampaikan pengenalan tentang lembaga konsumen.

image

Pelatihan ini diselenggarakan di SEAMIO-RECSAM (South East Asia Ministers of Education Organization-Regional Centre for Education in Science and  Mathematics). RECSAM adalah sebuah lembaga pendidikan dan pelatihan yang dibentuk oleh para menteri pendidikan negara-negara ASEAN dengan maksud untuk memberi bekal ketrampilan bagi para pendidik di bidang sains dan matematika. Tempat ini diperlengkapi dengan fasilitas penginapan, ruang-ruang pertemuan, tempat fitness, dan kolam renang. Tapi tampaknya, fasilitas ini jarang digunakan untuk tujuan semula sehingga disewakan untuk umum. Di ruang makan terdapat pelaminan. Mungkin tempat itu sering disewa untuk hajatan. Demikian juga CAP (Consumer Association of Penang) sebagai LSM juga memanfaatkan untuk pelatihan. Di kompleks ini ada lebih dari empat bangunan tiga lantai, namun hampir 70% ruangan terkunci rapat.
***
Karena pelatihan yang kami ikuti bertema pendidikan konsumen, maka pada sessi berikutnya, mrs. Saras dan mr. Subba menjelaskan aktivitas yang dilakukan CAP dalam pendidikan konsumen.
Mengikuti pelatihan hari pertama ini saya disegarkan lagi ingatan pada ilmu-ilmu yang sudah diajarkan oleh ibu Mujono, bu Nunuk, bu Budi Astuti Azhar, bu Lies, dan bu Martopo.

image

***
Ada yang menggelitik hati saya. Kalau di Indonesia, pelatihan berskala internasional seperti ini pasti melibatkan banyak panitia. Ada bagian sekretariat, bendahara. Sie acara, sie konsumsi, sie humas dan publikasi, sie keamanan, sie transportasi, sie akomodasi, sie dokumentasi, dll. Biasanya kami merekrut mahasiswa sebagai relawan. Namun dalam pelatihan di Penang ini, semuanya dikerjakan oleh satu super-women bernama miss Yiao. Salut!

image